Berita

Diduga Granat, Dua Benda Mirip Peluru Meriam Kuno Ditemukan di Hutan Plampang Sumbawa

×

Diduga Granat, Dua Benda Mirip Peluru Meriam Kuno Ditemukan di Hutan Plampang Sumbawa

Share this article

Sumbawa Besar, NTB — Warga Desa Muer, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, dihebohkan dengan penemuan dua benda berbentuk bulat yang diduga granat. Namun, setelah diidentifikasi oleh Tim Jibom Detasemen Gegana Brimob Sumbawa, benda seberat masing-masing 2,5 kg itu dipastikan sebagai peluru meriam kuno dan dinyatakan aman.

Kapolres Sumbawa AKBP Marieta Dwi Ardhini, S.H.,S.I.K, melalui Dantim Jibom Ipda Muhammad Ibrahim Sahabuddin, S.mn., menyampaikan bahwa “Penemuan ini bermula dari postingan di media sosial pada Jumat, 19 September 2025, oleh akun berinisial AK, yang menawarkan barang antik diduga granat. Setelah diselidiki, barang tersebut ternyata milik ME (61), seorang warga, Desa Muer.” ujarnya.

Khawatir akan bahaya, aparat kepolisian segera berkoordinasi dengan Tim Jibom Brimob Sumbawa. Pada pukul 14.35 WITA, tim yang dipimpin oleh Ipda Muhammad Ibrahim Sahabuddin, S.mn., tiba di lokasi. Setelah melakukan identifikasi, tim Jibom memastikan bahwa kedua benda itu bukan bahan peledak aktif melainkan peluru meriam kuno.

“Kami telah memastikan bahwa dua benda yang ditemukan warga ini bukan granat atau bahan peledak. Keduanya adalah benda bersejarah yang identik dengan peluru meriam zaman kuno.” tegas Dantim Jibom.

Ia menambahkan, “Kami mengimbau kepada masyarakat, jika menemukan benda yang dicurigai sebagai bahan peledak, jangan panik dan jangan coba-coba untuk memindahkannya. Segera laporkan kepada pihak berwajib agar bisa ditangani dengan prosedur yang benar demi keselamatan bersama.”

Setelah dipastikan aman, kedua benda bersejarah tersebut dikembalikan kepada pemiliknya dan ia diingatkan untuk tidak lagi mempostingnya di media sosial. Pihak kepolisian juga mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial. Situasi dinyatakan aman dan terkendali pada pukul 15.00 WITA. (MA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4. Intip Strategi Energi Terbarukan Tiongkok, Delegasi PKN I Angkatan 69 Dorong 6 Langkah untuk RI BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69, mengkaji strategi penguatan energi terbarukan di Tiongkok. Studi pada 26–30 Oktober 2026 ini menghasilkan enam rekomendasi untuk mempercepat transisi energi di Indonesia, mulai dari penguatan jaringan listrik hingga kepastian investasi. Dipimpin Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq, delegasi berdiskusi dengan China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA), serta mengunjungi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Yanqing di kawasan Longqingxia, Beijing. Kepala LAN Muhammad Taufiq menegaskan pentingnya kepemimpinan adaptif dan kolaborasi lintas sektor, dalam menghadapi tantangan transisi energi. “Pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik, pemanfaatan energi baru terbarukan, teknologi PLTS, serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi kami,” ujar Taufiq, Selasa (27/10/2026). Sementara Ketua Angkatan PKN I/69 I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya mengatakan, pengembangan energi bersih membutuhkan perencanaan terpadu, kesiapan jaringan, dan teknologi penyimpanan energi. “Kunjungan ke PLTS Longqingxia memberikan pembelajaran tentang tata kelola pembangkit energi bersih. Kami juga mendalami pengembangan sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin, didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi,” jelasnya. Menurutnya, pembelajaran tersebut relevan dengan RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, 42,6 GW dialokasikan untuk energi baru terbarukan (EBT), termasuk 17,1 GW tenaga surya. Sekretaris Angkatan PKN I/69, Mohammad Averrouce, menekankan pentingnya kepastian investasi, pengembangan industri nasional, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja. “Kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan menjadi kunci. Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja agar transisi energi membuka lebih banyak lapangan kerja hijau,” ungkapnya. Dari studi ke Tiongkok tersebut, delegasi merumuskan enam rekomendasi utama, yakni menyelaraskan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik, mempercepat pengembangan sistem penyimpanan energi baterai (BESS), memperkuat kepastian investasi, menyederhanakan koordinasi perizinan dan pemanfaatan lahan, mengembangkan industri nasional, serta memperluas digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan artifisial. Seluruh rekomendasi akan dituangkan dalam policy brief dan Matriks Adaptasi Kebijakan, sebagai masukan bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Hasil studi itu juga diharapkan mempercepat pengembangan energi terbarukan, memperkuat keandalan pasokan listrik, meningkatkan daya saing industri, serta memperluas lapangan kerja hijau di Indonesia.
Berita

  BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN)…