Berita

Tangkap Ikan Menggunakan Bahan Peledak Pria Asal Desa Piong Ini Diciduk Satpolairud Polres Bima

×

Tangkap Ikan Menggunakan Bahan Peledak Pria Asal Desa Piong Ini Diciduk Satpolairud Polres Bima

Share this article

 

 

Pria berinisial A (51) warga Desa Piong Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima diamankan oleh Satpolairud Polres Bima Polda NTB, Rabu 21 Mei 2025.

Yang bersangkutan diamankan karena tertangkap tangan oleh Personel Satpolairud saat melaksanakan penangkapan ikan menggunakan bahan Peledak atau yang di sebut dengan Bom Ikan.

Terduga pelaku Kelahiran Kelurahan Kolo Kota Bima dan berdomisili di Desa Piong Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima ini menggeluti pekerjaannya sudah 1 tahun dalam sebulan 4 kali melakukan perbuatan yang merusak ekosistem laut itu.

Hal itu dibenarkan oleh Kapolres Bima AKBP Eko Sutomo S.I.K.M.I.K., dalam keterangan tertulis resminya melalui Kasat Polairud Iptu Hari Purnomo SH.

Terduga pelaku diamankan adanya informasi dari masyarakat yang menyebut terduga pelaku acap kali melakukan pemboman Ikan.

“Informasi itu kami respon cepat”.Kata Kasat.

Dikatakannya, sebelum diamankan pihaknya melakukan pengintaian sejak pukul 07.00. Wita pagi.

Sekira pukul 10.00.Wita terduga pelaku memulai aksinya namun di karenakan ikan belum muncul terduga pelaku pun kembali ke dermaga BBM.Tanpa di sadari oleh terduga pelaku bawah aksinya di pantau oleh petugas.

Namun saat didekati oleh petugas yang bersangkutan panik Bahakan hendak melawan petugas dan membuang BB ke laut.aksi terduga pelaku dapat diatasi dan berhasil diamankan.

Setelah itu personel Satpolairud yang dibackup oleh personel Polsek Sanggar mencari BB dengan cara menyelam dan BB 2 botol yang diduga bom ikan berhasil ditemukan.

Saat ini terduga pelaku dan BB diamankan di Mako Satpolairud Polres Bima untuk diproses hukum selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4. Intip Strategi Energi Terbarukan Tiongkok, Delegasi PKN I Angkatan 69 Dorong 6 Langkah untuk RI BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69, mengkaji strategi penguatan energi terbarukan di Tiongkok. Studi pada 26–30 Oktober 2026 ini menghasilkan enam rekomendasi untuk mempercepat transisi energi di Indonesia, mulai dari penguatan jaringan listrik hingga kepastian investasi. Dipimpin Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq, delegasi berdiskusi dengan China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA), serta mengunjungi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Yanqing di kawasan Longqingxia, Beijing. Kepala LAN Muhammad Taufiq menegaskan pentingnya kepemimpinan adaptif dan kolaborasi lintas sektor, dalam menghadapi tantangan transisi energi. “Pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik, pemanfaatan energi baru terbarukan, teknologi PLTS, serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi kami,” ujar Taufiq, Selasa (27/10/2026). Sementara Ketua Angkatan PKN I/69 I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya mengatakan, pengembangan energi bersih membutuhkan perencanaan terpadu, kesiapan jaringan, dan teknologi penyimpanan energi. “Kunjungan ke PLTS Longqingxia memberikan pembelajaran tentang tata kelola pembangkit energi bersih. Kami juga mendalami pengembangan sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin, didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi,” jelasnya. Menurutnya, pembelajaran tersebut relevan dengan RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, 42,6 GW dialokasikan untuk energi baru terbarukan (EBT), termasuk 17,1 GW tenaga surya. Sekretaris Angkatan PKN I/69, Mohammad Averrouce, menekankan pentingnya kepastian investasi, pengembangan industri nasional, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja. “Kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan menjadi kunci. Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja agar transisi energi membuka lebih banyak lapangan kerja hijau,” ungkapnya. Dari studi ke Tiongkok tersebut, delegasi merumuskan enam rekomendasi utama, yakni menyelaraskan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik, mempercepat pengembangan sistem penyimpanan energi baterai (BESS), memperkuat kepastian investasi, menyederhanakan koordinasi perizinan dan pemanfaatan lahan, mengembangkan industri nasional, serta memperluas digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan artifisial. Seluruh rekomendasi akan dituangkan dalam policy brief dan Matriks Adaptasi Kebijakan, sebagai masukan bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Hasil studi itu juga diharapkan mempercepat pengembangan energi terbarukan, memperkuat keandalan pasokan listrik, meningkatkan daya saing industri, serta memperluas lapangan kerja hijau di Indonesia.
Berita

  BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN)…