{"id":31320,"date":"2025-12-16T12:48:03","date_gmt":"2025-12-16T04:48:03","guid":{"rendered":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/?p=31320"},"modified":"2025-12-16T04:48:05","modified_gmt":"2025-12-16T04:48:05","slug":"nyongkolan-sasak-lombok-barat-aman-berkat-pengawalan-polisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/2025\/12\/16\/nyongkolan-sasak-lombok-barat-aman-berkat-pengawalan-polisi\/","title":{"rendered":"Nyongkolan Sasak Lombok Barat Aman Berkat Pengawalan Polisi"},"content":{"rendered":"<p data-path-to-node=\"1\"><b>Lombok Barat, NTB<\/b> \u2013 Tradisi Nyongkolan, ritual adat Sasak yang selalu meriah pasca pernikahan, kembali digelar di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Untuk memastikan kelancaran acara sekaligus menjaga ketertiban arus lalu lintas, personel Polsek Sekotong, Polres Lombok Barat, Polda NTB, turun tangan melaksanakan pengamanan dan pengaturan jalan. Kegiatan ini menjadi contoh harmonisasi antara pelestarian adat Sasak dan pelayanan publik, menjamin perayaan berlangsung aman dan nyaman bagi seluruh pihak.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"2\">Nyongkolan kali ini berlangsung pada Senin, 15 Desember 2025, mulai pukul 16.30 hingga 18.00 WITA. Rombongan pengantin bergerak dari Dusun Mahuni menuju Dusun Telise, yang keduanya merupakan bagian dari Desa Persiapan Belongas. Seluruh rangkaian acara, yang diwarnai oleh iringan musik tradisional seperti kecimol dan gendang belek yang khas, mendapat pengawalan ketat di sepanjang jalan Dusun Telise.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"4\">Pengamanan Maksimal untuk Kelancaran Ritual Adat<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"5\">Pengamanan ini berfokus pada dua sasaran utama: rombongan peserta Nyongkolan dan masyarakat pengguna jalan lainnya. Mengingat kegiatan adat Nyongkolan seringkali menggunakan bahu jalan, kehadiran petugas kepolisian sangat vital untuk mencegah kemacetan dan kecelakaan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"6\">Kapolsek Sekotong, Iptu I Ketut Suriarta, S.H., M.I.Kom., memantau langsung pelaksanaan tugas ini. Menurutnya, pengamanan kegiatan adat merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Sitkamtibmas).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"7\">\u201cKami mengerahkan Bhabinkamtibmas Desa Buwun Mas bersama dua anggota Shabara Polsek Sekotong untuk mengamankan dan mengatur arus lalu lintas kegiatan adat Sasak nyongkolan ini,\u201d ujar Iptu Suriarta. \u201cFokus kami adalah memastikan rombongan dapat berprosesi dengan khidmat dan aman, sementara pengguna jalan lainnya juga tidak terganggu secara signifikan. Ini adalah bentuk komitmen Polri dalam mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8\">Kegiatan pengaturan arus lalu lintas ini melibatkan penempatan petugas di titik-titik strategis sepanjang rute yang dilalui rombongan. Dengan sigap, petugas mengimbau dan mengarahkan kendaraan, memastikan laju rombongan yang diiringi oleh dua iringan musik kecimol dan gendang belek dapat berjalan lancar. Prosesi ini sendiri merupakan salah satu daya tarik budaya yang seringkali menarik perhatian warga setempat dan pengguna jalan.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"9\">Kolaborasi Masyarakat dan Polisi Jaga Sitkamtibmas<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"10\">Selain pengaturan lalu lintas, aspek imbauan juga menjadi kunci. Bhabinkamtibmas secara aktif menghampiri dan berkomunikasi dengan rombongan pengantin dan keluarga. Imbauan ini bertujuan agar rombongan turut serta menjaga ketertiban, tidak terlalu memakan badan jalan, dan selalu memperhatikan arahan petugas.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"11\">\u201cKami juga memberikan imbauan kepada seluruh rombongan pengantin untuk bersama-sama menjaga Sitkamtibmas dan ketertiban lalu lintas. Kerjasama ini penting agar kegiatan Nyongkolan yang merupakan warisan adat Sasak ini dapat berjalan aman, tertib, dan lancar hingga selesai,\u201d tegas Kapolsek.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"12\">Pihak kepolisian memahami betul bahwa tradisi Nyongkolan merupakan momen penting dan sakral bagi masyarakat Suku Sasak. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan bersifat persuasif dan humanis, mengedepankan komunikasi yang baik agar seluruh rangkaian acara dapat terlaksana tanpa insiden. Kehadiran polisi bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menjalankan aktivitas.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"13\">Dampak Positif dan Apresiasi dari Tokoh Masyarakat<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"14\">Upaya pengamanan yang dilakukan oleh Polsek Sekotong membuahkan hasil yang sangat positif. Arus lalu lintas di sepanjang jalan Dusun Telise terpantau tertib dan lancar. Tujuan utama, yaitu terciptanya rasa aman dan nyaman bagi warga masyarakat yang sedang Nyongkolan, serta bagi pengguna jalan raya lainnya, tercapai dengan baik.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"15\">Atas kelancaran dan ketertiban acara, ucapan terima kasih mengalir dari tokoh masyarakat dan tokoh pemuda dari kedua desa. Mereka mengapresiasi kesigapan dan dedikasi aparat kepolisian Polsek Sekotong dalam mengawal kegiatan adat mereka. Apresiasi ini menggarisbawahi pentingnya peran kepolisian dalam menjaga dan memfasilitasi kegiatan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"16\">Secara keseluruhan, kegiatan pengamanan dan pengaturan Nyongkolan ini berjalan dan berakhir dengan situasi yang aman dan kondusif, sebagaimana dipantau langsung oleh Kapolsek Sekotong Iptu I Ketut Suriarta, S.H., M.I.Kom. Keberhasilan ini menegaskan bahwa tradisi adat Sasak yang unik dan meriah dapat tetap berjalan harmonis berdampingan dengan ketertiban umum dan keselamatan berlalu lintas, berkat kolaborasi dan pengawalan maksimal dari pihak kepolisian.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lombok Barat, NTB \u2013 Tradisi Nyongkolan, ritual adat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":31322,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-31320","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31320","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31320"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31320\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31321,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31320\/revisions\/31321"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31322"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31320"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31320"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31320"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}