{"id":25272,"date":"2025-09-13T20:59:19","date_gmt":"2025-09-13T12:59:19","guid":{"rendered":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/?p=25272"},"modified":"2025-09-13T12:59:21","modified_gmt":"2025-09-13T12:59:21","slug":"dr-i-dewa-nyoman-agung-dharma-wijaya-sh-mh-dua-ilmu-paling-mahal-tahu-diri-dan-tahu-batas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/2025\/09\/13\/dr-i-dewa-nyoman-agung-dharma-wijaya-sh-mh-dua-ilmu-paling-mahal-tahu-diri-dan-tahu-batas\/","title":{"rendered":"Dr. I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya, SH.MH: Dua Ilmu Paling Mahal, Tahu Diri dan Tahu Batas"},"content":{"rendered":"<p>Opini &#8211; Dalam setiap perjalanan hidup, manusia selalu dihadapkan pada berbagai pilihan yang menuntut kebijaksanaan. Namun, menurut Dr. I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya, SH.MH. ada dua ilmu yang harus benar-benar dikuasai karena menjadi kunci agar seseorang mampu menjalani hidup dengan lebih bermakna. Dua ilmu itu adalah ilmu tahu diri dan ilmu tahu batas.<\/p>\n<p>Ia menyebut keduanya sebagai \u201cilmu paling mahal\u201d yang tidak bisa diperoleh hanya dengan pendidikan formal, melainkan lewat pengalaman, refleksi diri, dan kebijaksanaan hati.<\/p>\n<p>\u201cTahu diri berarti kita memahami siapa diri kita sebenarnya, dari mana kita berasal, bagaimana keberadaan kita, dan apa tujuan yang hendak dicapai dalam hidup. Dengan tahu diri, seseorang akan lebih rendah hati dan tidak mudah terjebak dalam kesombongan yang justru merugikan dirinya sendiri,\u201d ungkap Dr. I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya, SH.MH, Kamis (11\/9\/2025).<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ilmu tahu batas adalah kesadaran untuk memahami keterbatasan diri. Ilmu ini mengajarkan seseorang kapan harus berhenti, kapan saatnya melangkah pergi, dan kapan waktu yang tepat untuk kembali.<\/p>\n<p>\u201cIlmu tahu batas itu penting karena tidak semua hal bisa kita paksakan. Ada kalanya kita perlu menahan diri demi menjaga keseimbangan, baik dalam hubungan sosial, pekerjaan, maupun kehidupan pribadi. Mereka yang tidak tahu batas justru mudah terjebak pada sikap berlebihan yang pada akhirnya bisa merugikan dirinya sendiri maupun orang lain,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, kombinasi dari kedua ilmu tersebut akan membentuk pagar kehidupan. Pagar ini bukan hanya berfungsi sebagai pelindung dari kesalahan, tetapi juga sebagai penuntun agar manusia tetap berjalan pada jalur yang benar.<\/p>\n<p>Ia menekankan bahwa orang yang mampu menguasai ilmu tahu diri dan tahu batas akan terhindar dari sikap arogan. Sebaliknya, mereka akan lebih siap menerima luka, kegagalan, ataupun rasa sakit dengan hati yang lebih lapang.<\/p>\n<p>\u201cDua ilmu ini akan melatih kita menjadi pribadi yang tidak hanya kuat menghadapi cobaan, tetapi juga bijak dalam menyikapi kebahagiaan. Sebab hidup tidak melulu soal menang dan kalah, melainkan tentang keseimbangan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, ia menyebut dalam dunia kerja, tahu diri berarti memahami kemampuan dan potensi yang dimiliki, sehingga tidak minder ketika menghadapi tantangan. Sedangkan tahu batas berarti tahu kapan harus berhenti bekerja dan memberi ruang untuk istirahat agar kesehatan tetap terjaga.<\/p>\n<p>Dalam hubungan sosial, tahu diri bisa diwujudkan dengan menghargai orang lain tanpa merasa lebih tinggi. Sementara tahu batas adalah kesadaran untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan yang bukan menjadi ranah kita.<\/p>\n<p>\u201cKalau dalam keluarga, tahu diri berarti menyadari peran kita masing-masing. Sedangkan tahu batas, misalnya, ketika marah, kita harus sadar kapan harus berhenti bicara sebelum kata-kata melukai hati orang yang kita cintai,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dr. I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya, SH.MH, pun mengajak masyarakat untuk menjadikan dua ilmu tersebut sebagai pedoman dalam keseharian. Menurutnya, keberhasilan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi posisi yang diraih, tetapi seberapa besar seseorang mampu memahami dirinya dan menghormati batas-batas kehidupan.<\/p>\n<p>\u201cDua ilmu ini adalah warisan kebijaksanaan yang harus terus kita pelajari. Jika dipraktikkan dengan sungguh-sungguh, kita akan memiliki fondasi hidup yang kokoh dan arah yang lebih jelas,\u201d tutupnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Opini &#8211; Dalam setiap perjalanan hidup, manusia selalu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-25272","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25272","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25272"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25272\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25273,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25272\/revisions\/25273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hukrim.kuak.web.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}