Berita

Bhabinkamtibmas Desa Manggeasi Mediasi Warga yang Berselisih

×

Bhabinkamtibmas Desa Manggeasi Mediasi Warga yang Berselisih

Share this article

Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), Bhabinkamtibmas Desa Manggeasi, AIPDA M. Ali Hanafia, S.Sos, bersama Babinsa dan Kepala Desa, melakukan mediasi terhadap permasalahan salah paham antara dua warga, Sdra. Amri dan Sdra. Yulis Dahnia. Mediasi berlangsung di Kantor Desa Manggeasi, Selasa (18/2/2025) pukul 09.10 WITA.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak yang sebelumnya terlibat perselisihan verbal akhirnya bersepakat untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Bhabinkamtibmas berperan sebagai penengah dan memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga hubungan baik antarwarga serta tidak mudah terprovokasi oleh kesalahpahaman kecil.

“Kami mengajak masyarakat untuk lebih mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Dengan demikian, hubungan sosial tetap harmonis dan lingkungan tetap kondusif,” ujar AIPDA M. Ali Hanafia, S.Sos.

Selain memfasilitasi mediasi, Bhabinkamtibmas juga memberikan imbauan kepada warga untuk senantiasa menjaga ketertiban, menghindari konflik, serta bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.

Kapolsek Dompu, IPDA Ade Helmi, SH, mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Kepala Desa dalam menyelesaikan konflik warganya.

“Keberadaan aparat keamanan di tengah masyarakat bukan hanya untuk penegakan hukum, tetapi juga sebagai jembatan dalam menyelesaikan konflik secara damai. Kami berharap kesadaran warga semakin meningkat untuk menjaga keamanan bersama,” ungkap IPDA Ade Helmi, SH.

Mediasi berakhir pada pukul 10.20 WITA dengan situasi aman dan kondusif. Kesepakatan damai ini diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat lain dalam menyelesaikan permasalahan dengan cara yang bijak dan tanpa kekerasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4. Intip Strategi Energi Terbarukan Tiongkok, Delegasi PKN I Angkatan 69 Dorong 6 Langkah untuk RI BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69, mengkaji strategi penguatan energi terbarukan di Tiongkok. Studi pada 26–30 Oktober 2026 ini menghasilkan enam rekomendasi untuk mempercepat transisi energi di Indonesia, mulai dari penguatan jaringan listrik hingga kepastian investasi. Dipimpin Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq, delegasi berdiskusi dengan China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA), serta mengunjungi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Yanqing di kawasan Longqingxia, Beijing. Kepala LAN Muhammad Taufiq menegaskan pentingnya kepemimpinan adaptif dan kolaborasi lintas sektor, dalam menghadapi tantangan transisi energi. “Pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik, pemanfaatan energi baru terbarukan, teknologi PLTS, serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi kami,” ujar Taufiq, Selasa (27/10/2026). Sementara Ketua Angkatan PKN I/69 I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya mengatakan, pengembangan energi bersih membutuhkan perencanaan terpadu, kesiapan jaringan, dan teknologi penyimpanan energi. “Kunjungan ke PLTS Longqingxia memberikan pembelajaran tentang tata kelola pembangkit energi bersih. Kami juga mendalami pengembangan sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin, didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi,” jelasnya. Menurutnya, pembelajaran tersebut relevan dengan RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, 42,6 GW dialokasikan untuk energi baru terbarukan (EBT), termasuk 17,1 GW tenaga surya. Sekretaris Angkatan PKN I/69, Mohammad Averrouce, menekankan pentingnya kepastian investasi, pengembangan industri nasional, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja. “Kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan menjadi kunci. Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja agar transisi energi membuka lebih banyak lapangan kerja hijau,” ungkapnya. Dari studi ke Tiongkok tersebut, delegasi merumuskan enam rekomendasi utama, yakni menyelaraskan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik, mempercepat pengembangan sistem penyimpanan energi baterai (BESS), memperkuat kepastian investasi, menyederhanakan koordinasi perizinan dan pemanfaatan lahan, mengembangkan industri nasional, serta memperluas digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan artifisial. Seluruh rekomendasi akan dituangkan dalam policy brief dan Matriks Adaptasi Kebijakan, sebagai masukan bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Hasil studi itu juga diharapkan mempercepat pengembangan energi terbarukan, memperkuat keandalan pasokan listrik, meningkatkan daya saing industri, serta memperluas lapangan kerja hijau di Indonesia.
Berita

  BEIJING — Delegasi Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN)…